Sang Tertipu yang Masih Bisa Menipu

Ini adalah cerita tentang serangkaian kebodohan yang benar-benar terjadi.

Seorang kawan bercerita tentang adik sepupu perempuan enam belas tahunnya yang masih duduk di kelas satu SMU di Banda Aceh.

Sebut saja namanya Mawar. Dia mendapat pesan singkat (SMS) lewat ponselnya (simpati, telkomsel) dari seseorang tak dikenal yang menggunakan operator berbeda (indosat). Isi pesannya mengatakan bahwa dia memenangkan undian senilai 35 juta rupiah dan untuk mendapatkannya dia harus mengirim nomor pengisian pulsa sebesar 1 juta rupiah. Si pengirim menambahkan di akhir pesannya “Pengirim: 1010″ (nomor untuk undian pada telkomsel).

Mawar membalas pesan itu untuk meyakinkan dirinya. Merasa calon korbannya sudah termakan tipuannya, sang pengirim SMS penipu itu kini berani mengancam, dan dengan polosnya Mawar mengiyakannya. Mawar bahkan tidak tahu bahwa nomor pengirimnya itu beda operator dan beda kota.

Mawar berusaha mendapatkan cara untuk mengirimkan yang diminta si penipu itu. Dia memiliki teman yang bekerja sebagai penjaga toko voucher dan mulai bercerita tentang kebutuhannya. Dia meminjam pulsa dari toko tempat temannya bekerja itu dan berjanji akan mengembalikannya keesokan harinya, ditambah iming-iming kawannya itu akan mendapat bagian sebesar 1 juta rupiah lagi.

Teman penjaga toko voucher-nya itu percaya dan memberikan sejumlah yang diminta Mawar. Mawar lalu mengirimkannya ke si penipu, dan berkhayal akan diapakan uang itu nantinya.

Ketika toko voucher tempat teman Mawar bekerja akan tutup di malam hari, pemiliknya menghitung transaksinya hari itu dan mempertanyakan ketidakcocokan jumlah voucher yang keluar dengan pendapatannya.

Maka mengalirlah cerita dari penjaga toko itu. Sang pemilik toko marah dan mengadukan hal itu ke polisi dengan dalih penipuan.

Mawar, gadis SMU berusia 16 tahun itu masuk tahanan polisi sektor. Keluarganya terkejut dan berusaha untuk mengeluarkan anaknya. Hanya tinggal menunggu waktu saja bagi keluarganya untuk datang mengirimkan jaminan (?) ke polisi.

Tapi Mawar tidak sabar, dia berusaha kabur. Dia meminta ijin kepada polisi yang menjaganya untuk ke toilet yang berada di lantai bawah (dia ditahan di lantai dua).

“Benar ya kamu ke toilet? Kalau tidak saya tembak kamu!” kata polisi penjaganya yang galak tetapi tetap mengijinkan.

Dan kaburlah Mawar dari kantor polisi itu. Dia menginap di rumah kerabatnya, merasa aman.

Mawar masih belum aman karena esoknya polisi mendatanginya lagi, dan dia kembali di tahan.

Sampai tulisan ini dibuat masih belum jelas gimana kelanjutan nasib Mawar.

Leave a comment

1 Comments.

  1. biasanya setiap mawar akan layu kemudian menanggalkan batangnya dan membusuk, …bukankah begitu?

Leave a Reply


[ Ctrl + Enter ]