Sang Tentara Perkasa
Entah senang atau kecewa ketika mendapatkan pesawat yang akan kutumpangi kali ini berbadan agak gendut. Biasanya maskapai ini memakai pesawat yang berbadan langsing. Banyak kawan bilang yang berbadan gendut ini lebih aman dibanding yang berbadan langsing, tapi aku lebih menyukai yang langsing, karena menurutku lebih menggambarkan kecepatan dan kegesitan.
Terlambat sekitar empat puluh menit, tak lama setelah mendarat, si gendut ini sudah berganti penumpang untuk kemudian terbang berbalik arah datang tadi. Dari garis wajah dan cara bicaranya, kebanyakan penumpang adalah penduduk dari luar daerah ini yang mungkin akan berhari raya di tempat asal, seperti tujuanku saat itu. Beberapa terlihat ekspatriat, yang sepertinya hanya akan keluar sebentar dari negeri ini dan kembali dengan visa yang sudah diperpanjang. Beberapa wajah ekspat itu seperti tidak asing, aku sempat melihatnya di kantor lembaga non pemerintah.
Semua bangku terisi. Suara riuh rendah memenuhi ruangan panjang itu. Aku duduk agak di depan, di dekat jendela. Untungnya aku datang agak lebih awal waktu melapor tadi sehingga bisa lebih bebas memilih tempat duduk. Samping kiriku diisi oleh dua orang yang sepertinya rekan sekerja. Tidak banyak yang menarik perhatianku kecuali seorang berseragam tentara yang menggendong bayi. Emblemnya memberitahu bahwa dia berasal dari salah satu kesatuan elit. Tapi pakaian yang mencolok itu sangat mengganggu mata dan pikiranku. Jika tidak sedang bertugas, mengapa harus berpakaian lapangan lengkap seperti itu, ups.. hampir lengkap, dia tidak membawa senjata.
Tak lama setelah tinggal landas badan pesawat berguncang dengan suara agak bergemuruh, seperti biasanya jika memasuki daerah yang berawan. Bulan ini memang sudah memasuki musim penghujan, wajar saja jika banyak kumpulan awan tebal. Ruangan yang tadi agak ribut oleh suara obrolan penumpang menjadi senyap, kecuali suara gemuruh pesawat. Sebenarnya aku menikmati kesunyian itu. Tapi tiba-tiba terpecahkan oleh jeritan seorang bayi.
Bayi yang digendong si tentara tadi menjerit sekuat tenaganya. Mungkin ayahnya, sang tentara itu, yang mengajarkannya menjerit dengan keras, sekeras wajahnya yang seingatku tidak pernah tersenyum dengan orang yang diajaknya bicara. Naluri kebapakan si tentara itu berusaha menenangkan. Alih-alih mereda, jeritan si bayi tidak juga berhenti. Badan pesawat masih saja berguncang, penumpang tidak ada yang berbincang. (Jika ini adalah sebuah film, harusnya ini bagian yang mencekam.)
Lima menit berlalu, si bayi masih saja begitu. Aku mulai menggerutu, terganggu. Tapi kasihan bayi itu. Ibu si bayi itu sudah berusaha mengambil bayi itu dari pelukan ayahnya yang tentara. Tapi tidak diberikannya. Ternyata tentara itu memang benar-benar keras, bukan hanya keras wajahnya saja.
Dengan badan tinggi tegapnya (tapi kemudian aku tahu ternyata tidak setinggi bayanganku sebelumnya) dan wajah sombong tanpa senyumnya sang tentara itu terus berusaha menenangkan anaknya dengan membawanya berjalan-jalan di lorong yang sempit di tengah badan pesawat. Si bayi sedikit reda, tapi sebentar kemudian jeritannya kembali terdengar. Tidak berhasil, dia kembali duduk.
Kali ini si tentara membiarkan si ibu mengambil anaknya dari pelukannya. Dan dengan sedikit buaian, si bayi mulai tenang dan akhirnya benar-benar tenang. Mungkin kebetulan, daerah awan tebal terlewati dan pesawat pun kemudian terbang dengan tenang, tidak lagi dengan suara bergemuruh. Suara obrolan penumpang kembali terdengar. Tak lama si tentara itu terlihat tertidur, entah kelelahan menenangkan anaknya, entah hemat tenaga karena puasa, seperti aku yang tak lama kemudian juga tertidur.
Banda Aceh-Jakarta, 29 Oktober 2005
Sphere: Related Content
Comments (2 comments)
dimana mana ibu yg lebih jago menenangkan anaknya..hehehe..*bangga mode on jadi wanita nih
[reply this comment]
Ling
/ November 7th, 2005, 2:27 pm / #
btw, pesawat apa sih
[reply this comment]
Ling
/ November 7th, 2005, 2:36 pm / #
Post a comment